TIDAK ADA KONEKSI

Babe ikut sedih koneksi internet kamu terputus atau tidak tersambung dengan internet

COBA LAGI

Selalu Sajikan Berita yang Kamu Inginkan
Kapan saja dimana saja !

Tersedia di

Setelah Ngamar Bareng Selingkuhan, Anita Dibunuh Jasadnya Sangat Menyedihkan

Almitania alias Anita Azka (34), perempuan berkulit putih ditemukan

BACA DI APLIKASI BABE
(303.948)
Top Developer

Ritel Konvensional Masih Punya Taring

Indopos - 02 - Apr - 2019

INDOPOS.CO.ID - Tahun lalu, pertumbuhan sektor ritel di Jakarta melambat. Apakah terpengaruh pesatnya pertumbuhan e-commerce?

Consumer Behavior Expert Yongky Susilo menegaskan, bahwa ritel masih akan tumbuh. Menurutnya, industri ritel memiliki peran sangat strategis bagi perekonomian Indonesia.

Yongky mengatakan, perlambatan atau bahkan penurunan kinerja penjualan ritel konvensional bukan disebabkan oleh perkembangan e-commerce atau perdagangan online. Dari total revenue ritel Indonesia, yang berasal dari belanja online hanya sekitar 2 persen hingga 3 persen.

''Pertumbuhan e-commerce memang cepat sekali, tetapi base-nya masih sangat kecil. Jadi kalau dibilang e-commerce yang menyebabkan ritel konvensional slow down, itu tidak benar. Kontribusinya hanya 2-3 persen saja, jadi tidak mungkin. Kita (ritel konvensional) punya Rp 8.000 triliun, sementara e-commerce hanya Rp 120 triliun,'' urainya dalam sebuah diskusi di Jakarta, Senin (1/4/2019).

Untuk belanja FMCG (Fast Moving Consumer Goods) yang melalui belanja online, dia mengatakan, kontribusinya bahkan lebih kecil lagi. Tidak seperti di negara lain seperti Korea Selatan (Korsel) dan Singapura, fashion, gadget, dan travel yang banyak dicari di platform online.

''Di Indonesia, distribusi barang-barang FMCG sangat luar biasa. Setiap kita jalan 10 meter, barangnya bisa ketemu. Jadi tidak perlu belanja online. Hanya ada dua kategori yang besar di e-commerce, yaitu baby product seperti susu, pampers, dan alat-alat bayi, serta kategori kosmetik,'' ulasnya.

Bila ada anggapan kalau e-commerce akan menguasai pasar dagang di masa datang, Yongky mengatakan jawabannya bisa iya, tetapi bisa juga tidak. ''Ritel itu adalah teori evolusi. Siapa yang tidak berevolusi, dia akan mati. Apakah online tahan mati? Tidak juga. Tetap dia juga harus berevolusi,” sarannya.

Begitu juga untuk ritel konvensional. Menurut dia, kalau ada yang mati, itu karena mereka tidak berevolusi mengikuti kebutuhan konsumen.

Maka itu, dia menekankan pentingnya membangun ekosistem ritel yang berkelanjutan, terutama untuk menghadapi perubahan landscape industri akibat disruption teknologi digital. ''Kita perlu membangun daya saing dan daya pikat terhadap persaingan dengan ritel regional dan global. Sehingga pada 2050 nanti kita bisa menjadi negara dengan perekonomian kelima terbesar dan pemain ritel yang berkontribusi signifikan,'' ungkapnya optimistis.

Dia juga menekankan pentingnya regulator membuat rambu-rambu untuk menciptakan ekosistem ritel yang sehat dan adil bagi seluruh pemangku kepentingan (konsumen, pedagang, dan produsen). ''Sehingga setiap format ritel, yaitu hipermarket, supermarket, minimarket, toko kelontong, warung, rombong rokok, dan tidak terkecuali ritel online, dapat berevolusi dan survive pada era disruption ini,'' kata Board Expert di Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) dan Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) itu.

Dia menjabarkan, sebanyak 56 persen pertumbuhan perekonomian Indonesia disumbang oleh konsumsi penduduk Indonesia. Jadi, sambungnya, total pasar ritel yang bertumbuh pesat, memberikan dampak positif pada stabilitas harga, nilai tambah, dan keuntungan bagi semua stakeholder (konsumen, pedagang, dan produsen).

Sementara itu, Head of Corpcomm & Public Affairs JD.id Teddy Arifianto mengakui, dalam 1-2 tahun terakhir ini terjadi pergeseran perilaku konsumen di mana e-commerce (ritel online) menjadi katalisatornya. ''Di JD, kami menyebutnya sebagai 'boundry-less' retail yang berarti konsumen menginginkan pengalaman yang seem-less atau tidak membedakan antara online dan offline. Karena persinggungan antar platform ini pada hakikatnya adalah dilakukan untuk meningkatkan pengalaman si konsumen itu sendiri saat berbelanja,'' ucapnya.

Teddy menekankan, peran inovasi teknologi yang berorientasi pada konsumen (consumer-driven technology) menjadi salah satu kunci penting untuk menghadapi perkembangan industri ritel masa depan. (dew)

Home
Video
Lokal
Ekstra

Ente tau gak?