TIDAK ADA KONEKSI

Babe ikut sedih koneksi internet kamu terputus atau tidak tersambung dengan internet

COBA LAGI

Selalu Sajikan Berita yang Kamu Inginkan
Kapan saja dimana saja !

Tersedia di

Setelah Ngamar Bareng Selingkuhan, Anita Dibunuh Jasadnya Sangat Menyedihkan

Almitania alias Anita Azka (34), perempuan berkulit putih ditemukan

BACA DI APLIKASI BABE
(303.948)
Top Developer

WHO merekomendasikan penurunan status ganja

Beritagar - 14 - Feb - 2019
WHO merekomendasikan penurunan status ganja

Ilustrasi ganja medis. | BestStockFoto /Shutterstock

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengusulkan penurunan status ganja setelah meninjau bukti potensi manfaatnya sebagai penunjang kesehatan.

Komite Pakar WHO untuk Ketergantungan Obat (ECDD) telah mengusulkan untuk memasukkan ganja ke dalam schedule I, bukan schedule IV.

Menurut klasifikasi PBB, Single Convention on Narcotic Drugs tahun 1961, kanabis masuk dalam schedule I dan IV. Klasifikasi schedule WHO diterapkan untuk mengategorikan potensi risiko kesehatan dan manfaat zat tertentu.

Klasifikasi terdiri dari schedule I, zat dengan sifat adiktif dan risiko penyalahgunaan, hingga schedule IV yang paling berbahaya namun memiliki nilai medis atau terapeutik yang sangat terbatas.

Pejabat PBB diperkirakan akan mengadakan pemungutan suara perihal ini pada Maret 2019. "Komite mengetahui bahaya kesehatan masyarakat yang disebabkan oleh zat-zat ini, serta potensinya untuk penggunaan terapeutik dan ilmiah," kata WHO dalam sebuah pernyataan.

"Sebagai hasilnya, Komite merekomendasikan sistem kontrol internasional yang lebih rasional seputar ganja dan zat terkait ganja yang akan mencegah bahaya terkait obat sambil memastikan bahwa sediaan farmasi turunan ganja tersedia untuk penggunaan medis."

Perubahan status ini mungkin juga berlaku untuk produk non-THC (tetrahydrocannabinol) seperti minyak CBD.

Commission on Narcotic Drugs PBB diperkirakan akan melakukan voting atas rekomendasi ini bulan depan. "Rekomendasi ini sangat penting karena bisa mengarah pada mengatasi hambatan untuk penelitian, meningkatkan akses pasien atas obat berbasis ganja, dan memungkinkan perdagangan bebas produk ganja secara internasional," kata Ethan Russo dari International Cannabis and Cannabinoids Institute.

Saat ini, ganja legal di 30 negara, termasuk Denmark, Finlandia, Kanada, Jerman, Australia, dan sebagian Amerika Serikat. Namun, sejumlah negara lain, seperti Bulgaria, Yunani, Islandia, Rumania, Irlandia, Swedia, termasuk Indonesia masih melarangnya.

Pemerintah Inggris juga telah mengambil langkah penting, memperbolehkan dokter meresepkan produk ganja kepada pasien Inggris untuk beberapa kondisi.

Menteri Dalam Negeri Sajid Javid mengumumkan pada Oktober bahwa ganja bisa diresepkan mulai 1 November 2018 untuk penggunaan obat-obatan di Inggris, Skotlandia, dan Wales.

Produk-produk ini hanya akan diresepkan berdasarkan kasus per kasus oleh dokter spesialis--bukan dokter umum--setelah semua opsi perawatan lain telah dicoba.

Kembali ke perubahan status ganja sebagai obat, Forbes menguraikan betapa perjalanan ini masih panjang.

Perkembangan terbaru mengenai isu ini, pada Rabu (13/2) Parlemen Eropa mengajukan resolusi yang mendukung kemajuan penggunaan ganja medis di negara-negara Uni Eropa.

Resolusi ini berupaya memberi insentif kepada negara-negara Eropa untuk meningkatkan akses ke ganja medis, memprioritaskan penelitian ilmiah dan studi klinis.

Seperti halnya rekomendasi WHO, resolusi Parlemen Eropa menunjukkan seberapa luas dukungan untuk legalisasi ganja, tetapi tidak mengubah undang-undang yang sebenarnya di tingkat internasional atau lokal.

Sementara itu, para ilmuwan telah menemukan manfaat ganja untuk kesehatan. Kanabis bisa membantu mengatasi berbagai penyakit seperti depresi dan psikosis, juga epilepsi dan sakit kronis.

Pada kanker, ganja memang belum terbukti bermanfaat. Namun, berfungsi dengan baik untuk membantu pasien kemoterapi mengatasi efeknya.

Home
Video
Lokal
Ekstra

Ente tau gak?