TIDAK ADA KONEKSI

Babe ikut sedih koneksi internet kamu terputus atau tidak tersambung dengan internet

COBA LAGI

Selalu Sajikan Berita yang Kamu Inginkan
Kapan saja dimana saja !

Tersedia di

Setelah Ngamar Bareng Selingkuhan, Anita Dibunuh Jasadnya Sangat Menyedihkan

Almitania alias Anita Azka (34), perempuan berkulit putih ditemukan

BACA DI APLIKASI BABE
(303.948)
Top Developer

5 Kala ini Hadir di Minggu Wuku Julungwangi, Perhatikan Ala Ayuning Dewasanya

Tribunnews Bali - 09 - Dec - 2018
5 Kala ini Hadir di Minggu Wuku Julungwangi, Perhatikan Ala Ayuning Dewasanya

Net

Ilustrasi

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dalam susunan kalender Bali dikenal istilah ala ayuning dewasa yang berarti baik-buruknya suatu hari dalam melakukan aktivitas atau kegiatan tertentu.

Dewasa atau padewasan yang biasa disebut ilmu wariga ini, seperti yang dijelaskan dalam Ala Ayuning Dewasa Ketut Bambang Gede Rawi yang ditulis oleh Ida Bagus Putra Manik Ariana dan Ida Bagus Budayoga, adalah cara untuk mengidentifikasi hari yang baik dan hari yang jelek (buruk).

"Jelasnya (padewasan itu adalah) pengetahuan untuk menentukan hari baik dan hari jelek," tulisnya.

Cakupan mengenai ala ayuning dewasa ini sangatlah luas dengan menyentuh berbagai aspek kehidupan manusia melalui perhitungan parameter tertentu.

Perhitungan yang dimaksud berupa pawintangan yang ditetapkan berdasarkan letak bintang dalam mengelilingi matahari; sasih yang berhubungan dengan penentuan musim berdasarkan peredaran gerak semu matahari mengelilingi bumi dan bulan mengelilingi bumi; dan wuku tentang ilmu ruas-ruas kumpulan binatang tertentu yang berporos di bumi.

Selain itu juga berpedoman pada wawaran yang berupa tentang nama-nama hari dan dedaunan yakni ilmu pembagian waktu dalam satu hari.

Menurut Ida Pandita Empu Yogiswara di Griya Manik Uma Jati, dalam ala ayuning dewasa ini memang tidak terlepas dari adanya wariga-wariga seperti wuku, ingkel dan di dalamnya terdapat larangan-larangan.

Ida Pandita pun menjelaskan bahwa ala ayuning dewasa ini juga tidak terlepas dari adanya ala ayuning dina (hari), ala ayuning sasih (bulan) dan ada ala ayuning nyet (pikiran).

Jadinya, meski ada larangan-larangan namun jika pelaksana kegiatan memiliki pemikiran yang positif maka hal tersebu boleh dilakukan.

"Sekarang ada ala ayuning nyet. Nyet itu pikiran. Kalau kita memang pikiran itu hening dan tidak akan kena apapun yang namanya musibah itu, itu boleh karena kita yakin," jelasnya.

Kemudian dijelaskan lagi dalam buku yang ditulis Ida Bagus Putra Manik Ariana dan Ida Bagus Budayoga tersebut, bahwa pada sistem ala ayuning dewasa ini juga dikenal istilah pangkakalan yakni munculnya kala-kala tertentu yang dijadikan pembanding untuk menentukan baik-buruknya dewasa.

Karena seringkali terjadi ketika padewasan berdasakan wuku, wewaran, penanggal-panglong dan sasih sudah baik, namun pada sistem pangkakalannya jelek.

Pada Minggu (Redite), (9/12/2018) Wuku Julungwangi ini seperti yang ditulis dalam kalender karya Alm. Drs. I Nyoman Singgir Wikarman bahwa terdapat munculnya Kala Bangkung, Kala Sor, Kala Gumarang, Kala Katemu, Kala Merang dan Kala Tinantang.

Alm. Drs. I Nyoman Singgir Wikarman semasih hidupnya sebagai anggota tim pengkaji wariga dan penyusunan kalender Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali dan kini kalendernya dilanjutkan oleh putra-putriya, I Gede Sutarya beserta adik-adiknya.

Berikut ala ayuning dewasa terhadap hadirnya kala-kala tersebut yang Tribun Bali himpun dari buku Ala Ayuning Dewasa Ketut Bambang Gede Rawi yang ditulis oleh Ida Bagus Putra Manik Ariana dan Ida Bagus Budayoga serta laman kalenderbali.org.

1. Kala Bangkung

kehadiran Kala Bangkung ternyata menjadi pentangan untuk mulai atau mengawali untuk memelihara hewan.

Kala Bangkung ini, selain di Redite Wuku Julungwangi juga hadir pada Redite Wuku Kulantir, Medangsya, Tambir, Prangbakat, dan Dukut; Senin (Soma) Wuku Warigadean, Ukir, Kulantir, Langkir, Merakih, Menail, dan Kelawu; Rabu (Budha) Wuku Kulantir, Julungwangi, Medangsya, Tambir dan Dukut.

Selain itu hadir pula pada Kamis (Wrespasti) Wuku Kelawu; Jum'at (Sukra) Wuku Medangsya; dan Sabtu (Saniscara) Wuku Kulantir, Julungwangi, Medangsya, Tambir, Perangbakat, serta Dukut.

2. Kala Sor

Padewasan Kala Sor ditandai sebagai hari yang jelek/buruk untuk melakukan pekerjaan di tanah seperti, membuat pondasi rumah, membajak sawah, menanam tanaman dan sebagainya. Kehadiran Kala Sor ini cukup sering dalam ala ayuning dewasa Bali.

Selain pada Redite Wuku Julungwangi, ia juga hadir pada Redite Wuku Ukir, Pujut, Matal dan Wayang; Soma Wuku Sinta, Landep, Warigadean, Gumbreg, Dungulan, Medangsya, Pahang, Medangkungan, Matal dan Ugu; Selasa (Anggara) Wuku Julungwangi, Sinta, Kulantir, Wariga, Langkir dan Medangsya.

Hadir pula pada Budha Wuku Ukir, Watugunung, Gumbreg, Warigadean, Kuningan, Langkir, Merakih, Menahil, Prangbakat dan Kelawu; Wrespasti Wuku Tolu, Dungulan Kerulut, Menahil dan Dukut; Sukra Wuku Sungsang, Warugadean, Ukir, Kulantir, Langkir, Pahang, Merakih, Uye, Menahil dan Kelawu; serta Saniscara Wuku Julungwangi, Ukir, Pujut, Matal dan Wayang.

3. Kala Gumarang

Kala Gumarang memiliki dua ketentuan, ada Kala Gumarang munggah alias naik dan Kala Gumarang turun.

Kala Gumarang munggah ditandai sebagai hari yang baik dalam melakukan upacara Butha Yadnya, namun jelek untuk menanam sirih dan tembakau.

Sementara Kala Gumarang turun baik untuk menanam sirih dan tembakau.

Lalu bagaimana caranya menentukan Kala Gumarang tersebut naik atau turun?

Ketentuannya dapat dilihat apabila bergabung Pwon (Panca Wara) dengan Urukung (Sad Wara) maka menghadirkan Kala Gumarang naik.

Sebaliknya jika Pwon ini bergabung dengan Maulu (Sad Wara) maka Kala Gumarang turun.

Munggahnya Kala Gumarang, selain pada Redite Wuku Julungwangi ini juga hadir pada Soma Wuku Ugu, Anggara Wuku Langkir, Budha Wuku Watugunung, Wrespasti Wuku Kerulut, Sukra Wuku Kulantir dan Saniscara Wuku Matal.

Kemudian untuk Gala Gumarang turun bisanya hadir pada Redite Wuku Prangbakat, Soma Wuku Dungulan, Anggara Wuku Kelawu, Budha Wuku Pujut, Wrespasti Wuku Landep, Sukra Wuku Tambir dan Saniscara Wuku Gumbreg.

4. Kala Katemu

Kala Katemu sebagai hari baik untuk menangkap ikan, berburu, mapikat (menangkap burung), memasang jerat, kungkungan, dan mangadakan pertemuan.

Kemuculan Kala Katemu ini juga terjadi pada Redite Wuku Sinta, dan Pujut; Soma Wuku Ukir, Tolu dan Krulut; dan Anggara Wuku Dunggulan, Pahang, Tambir dan Watugunung.

Kala Katemu uga muncul pada Budha Wuku Tolu, Wariga, Langkir, Dukut; Wraspati Wuku Sinta, Julungwangi, Pujut; Sukra Wuku Ukir dan Krulut; serta Saniscara Wuku Tolu, Dunggulan, Pahang, Tambir dan Wayang.

5. Kala Merang

Kala Merang/Mereng sendiri sebagai hari yang tidak baik dalam bercocok tanam.

Selain pada Redite Wuku Julungwangi, kala ini juga hadir pada Redite Wuku Prangbakat; Soma Wuku Dunggulan dan Ugu; Anggara Wuku Langkir; Budha Wuku Pujut dan Watugunung; Wraspati Wuku Landep, Krulut, Tambir ; dan Saniscara Wuku Matal.

(*)

Home
Video
Lokal
Ekstra

Ente tau gak?