TIDAK ADA KONEKSI

Babe ikut sedih koneksi internet kamu terputus atau tidak tersambung dengan internet

COBA LAGI

Selalu Sajikan Berita yang Kamu Inginkan
Kapan saja dimana saja !

Tersedia di

Setelah Ngamar Bareng Selingkuhan, Anita Dibunuh Jasadnya Sangat Menyedihkan

Almitania alias Anita Azka (34), perempuan berkulit putih ditemukan

BACA DI APLIKASI BABE
(303.948)
Top Developer

Inovasi Pemintalan Benang Noken Untuk Lestarikan Warisan Budaya UNESCO

Tribunnews - 09 - Dec - 2018
Inovasi Pemintalan Benang Noken Untuk Lestarikan Warisan Budaya UNESCO

istimewa

Seorang pengrajin dari Papua memperagakan penggunaan alat pemintal benang noken. Inovasi alat emintal benang noken ini dipamerkan pada Festival Filantropi Indonesia, belum lama ini

TRIBUNNEWS.COM -- Noken, kerajinan rajutan asal Papua ini memang familiar di telinga masyarakat Indonesia. Selain benang, serat kayu dan akar anggrek juga digunakan sebagai bahan dasar untuk diolah menjadi beragam hasil kerajinan tangan, khususnya tas.

Tas atau kantung noken ini mengambil peran penting di kehidupan masyarakat Papua, karena manfaatnya yang multiguna: mulai dari untuk membawa hasil kebun dari desa ke kota, membawa barang-barang pribadi, membawa buku bagi anak-anak yang hendak ke sekolah, hingga alat bagi orang tua untuk menggendong anaknya.

Selain manfaatnya yang beragam, noken juga berperan sentral di kehidupan masyarakat Papua karena pembuatannya yang dilakukan oleh para mama Papua.

Pada komunitasnya, para mama Papua yang dikenal tangguh ini biasanya membuat sendiri noken yang akan digunakan untuk keperluan rumah tangga.

Di kalangan perempuan Papua, noken bahkan dikenal juga sebagai simbol kedewasaan. Seorang perempuan belum dapat dianggap dewasa bila belum bisa merajut noken dengan baik.

Dengan banyaknya manfaat noken dan perannya yang begitu besar di tengah masyarakat Papua, maka tak heran bila pada 4 Desember 2012 lalu, UNESCO (United Nations Educational Scientific and Cultural Organization) menetapkan noken sebagai Warisan Budaya Indonesia Tak Teraga (intangible heritage) dalam sidang UNESCO yang digelar di Paris, Perancis. Tanggal 4 Desember ini lalu diperingati sebagai hari noken nasional.

“Sayangnya, belakangan berkembang tren pembuatan noken yang menggunakan bahan baku benang yang terbuat dari berbagai macam jenis, tidak lagi menggunakan serat kayu atau akar anggrek. Penggunaan serat kayu dianggap tak lagi efisien oleh pengrajin noken karena waktu pengerjaan yang memerlukan waktu yang lama,” terang Ibu Dina Lakupais pendamping pengrajin noken binaan Freeport Indonesia.

Dina menjelaskan Freeport beserta mitranya yang melakukan pendampingan di masyarakat mencoba berinovasi untuk mencari solusi pengolahan benang serat kayu guna memudahkan produksi noken. Inovasi yang dihadirkan adalah alat pemintal benang sederhana yang menggunakan dinamo seperti yang dipergunakan pada alat mesin jahit.

“Alat pemintal benang ini menjadi inovasi sederhana yang memiliki impact besar dalam proses pembuatan noken. Cara penggunaan alat pemintal benang ini cukup sederhana sehingga mudah diterapkan serta proses pemintalan benang serat kayu yang lebih singkat sehingga pada gilirannya mampu memotong waktu produksi noken,” tambah Dina.

Freeport Indonesia bekerjasama dengan Yayasan Nirudaya menyalurkan alat pemintal benang serat kayu untuk digunakan para mama Papua di kampung Utikini Baru, Timika, Papua. Keberadaan mesin pemintal ini memudahkan para Mama Papua dalam kegiatan membuat noken.

Hal ini diakui oleh Maria Kwiyami, salah seorang pengrajin noken di Utikini Baru yang belum lama ini menghadiri acara Festival Filantropi Indonesia (Fifest 2018) yang digelar di JCC Senayan, Jakarta (15 November 2018). Maria menjelaskan bahwa keberadaan alat pemintal benang itu telah mempermudah para perempuan Papua dalam menjalankan proses membuat noken.

“Untuk memintal benang ini, dahulu generasi orang tua kami memintal benang dengan menggunakan tangan, tapi sekarang kita sudah punya alat yang lebih canggih lagi untuk memintal. Dengan alat ini, kami bisa memintal lebih cepat” kata Maria.

Maria lebih jauh menjelaskan, bahwa secara tradisional, benang untuk membuat noken diambil dari serat kayu yang dipilin dengan tangan, helai demi helai hingga akhirnya menjadi benang. Proses inilah yang mendorong pembuatan noken memerlukan waktu yang cukup lama. Menurut Maria, untuk menyelesaikan proses pemilinan benang saja bisa memerlukan waktu hingga dua bulan.

“Jadi setelah ada alat ini, proses memintal benang bisa selesai hanya dalam waktu satu sampai dua minggu. Namun kalau menunggu proses secara manual bisa sampai satu atau dua bulan. Itu pun baru benangnya saja. Untuk proses sampai menjadi tas rajut noken, dulu saat masih dikerjakan secara manual bisa memerlukan waktu hingga tiga bulan,” kata Maria.

Maria menyebutkan, bahwa bantuan alat pintal ini telah diperolehnya selama sekitar tiga bulan (sejak Agustus). Selama jangka waktu itu, dirinya merasakan peningkatan dari sisi perekonomian keluarga dan usahanya yang turut didorong oleh proses produksi yang bisa berlangsung lebih cepat.

Ketua Yayasan Nirudaya, Martin Asda menjelaskan bahwa pihaknya memang sudah lama ingin memberikan bantuan berupa alat mesin pemintal benang untuk pengrajin noken. Hal ini tidak lain karena proses pemintalan manual yang lama dan cukup menyakitkan bagi para Mama Papua karena harus memilin kulit kayu yang kasar hingga menjadi lebih halus. Tak jarang, proses ini menyebabkan luka di tangan para pengrajin.

“Ide awalnya ini memang merupakan aspirasi dari para mama Papua agar mereka mendapatkan mesin pemintal benang untuk noken, karena kulit kayu itu kan kasar, jadi ketika dipelintir itu tak jarang membuat para mama terluka, itu proses yang menyakitkan, karena itu sejak 2017 akhir kami di Nirudaya mulai merancang program untuk menciptakan dan mendistribusikan alat pintal dan 2018, alatnya sudah mulai didistribusikan,” jelas Martin.

Gayung pun bersambut ketika PT Freeport Indonesia turut mendukung program ini. Tak hanya menyediakan alat pemintal, Freeport juga membina warga di Kampung Utikini Baru sebagai pengrajin noken. Sejak Agustus 2018, telah terdapat 13 orang mama Papua yang menerima bantuan berikut pelatihan dari Freeport terkait produksi noken ini.

“Secara rutin kami mengadakan berbagai pelatihan dan pembinaan untuk para mama di desa Utikini Baru. Hal ini dilakukan selaras dengan upaya Freeport dalam mengembangkan Kampung Utikini Baru sebagai desa noken,” katanya.

Sebagai desa noken nantinya, Kampung Utikini Baru tidak hanya akan memproduksi noken dalam bentuk tas, namun juga berbagai produk turunannya seperti pakaian hingga hiasan rumah.

“Untuk tahun depan, kami berencana untuk mulai masuk ke produk turunan dari noken yang akan disesuaikan dengan perkembangan zaman. Memang saat ini masih sebatas tas dan kantong kecil, tapi tahun depan akan masuk ke pakaian, home decor dan hiasan rumahan lainnya,” kata Martin.

Home
Video
Lokal
Ekstra

Ente tau gak?