TIDAK ADA KONEKSI

Babe ikut sedih koneksi internet kamu terputus atau tidak tersambung dengan internet

COBA LAGI

Selalu Sajikan Berita yang Kamu Inginkan
Kapan saja dimana saja !

Tersedia di

Setelah Ngamar Bareng Selingkuhan, Anita Dibunuh Jasadnya Sangat Menyedihkan

Almitania alias Anita Azka (34), perempuan berkulit putih ditemukan

BACA DI APLIKASI BABE
(303.948)
Top Developer

Para Sineas Latih Bikin Film Bagi Penyandang Disabilitas

Galamedianews - 16 - Sep - 2018
Para Sineas Latih Bikin Film Bagi Penyandang Disabilitas

Upaya mendengar dan memahami pihak lain bisa sangat berarti. Yaitu, kesediaan untuk melihat kehidupan dari posisi orang lain. Bagaimana ketika kita menghadapi situasi yang sama.

Inilah yang dilakukan sahabat kreatif yang tergabung di Komunitas Cinta Film Indonesia (KCFI) dan Yayasan Citra Yayasan Pusat Perfilman H. Usmar Ismail (YPPHUI).

“Empati adalah sesuatu yang bisa dilakukan semua orang. Syaratnya sederhana; mau mendengarkan, mau memahami orang lain,” ujar Ketua Umum KCFI, Budi Sumarno, di akhir acara workshop inklusi film, di gedung Pusat Perfilman H. Usmar Ismail (PPHUI), Kuningan, Jakarta, Jum’at (14/09/2018).

Dengan cara berempati, para sineas ini mengadakan pelatihan pembuatan film bagi penyandang disabilitas. Mulai dari penyandang autis, tunanetra, tunadaksa, tunagrahita, kaum marjinal, serta korban narkoba paska rehabilitasi.

Kegiatan ini berlangsung selama empat hari (11 - 14 September 2018). Para pengajar terdiri dari Bernhard Uluan Sirait (kamera), Ismail Sofyan Sani (penyutradaraan), Guntoro Sulung (akting), Budi Sumarno (penulisan skenario), Diah Paramitha (manejemen produksi) dan Tengku Rusian (artistik).

“Seluruh mentor yang mengajar bekerja sukarela tidak dibayar. Untuk operasional penyelenggara menggunakan dana kas organisasi, karena belum ada bantuan dari manapun,” terang Budi.

Workshop ini merupakan tindak lanjut dari Training of Trainer (ToT) untuk penyandang disabilitas yang diselenggarakan Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbang Film) Kemendikbud dan Komunitas Cinta Film Indonesia (KCFI).

“Kegiatan ini dimaksudkan sebagai upaya mengembangkan perfilman Indonesia, serta pemberdayaan masyarakat disabilitas dan marjinal,” ujar Budi lagi.

Sebagian masyarakat masih berpandangan, bahwa penyandang disabilitas orang yang memiliki kekurangan. Padahal sebaliknya mereka rata-rata memiliki intuisi kuat. Banyak contoh para penyandang disabilitas sukses dan menjadi publik figur yang menginspirasi. Ada yang jadi pengusaha, model, musisi, penyanyi, motivator, dan berprofesi lainnya.

Salah seorang peserta workshop, David Wiyono, adalah tuna daksa. Ia hanya memiliki sebelah kaki. Kaki kanannya diamputasi akibat jatuh dari kereta ketika masih kecil. David tinggal di Bekasi. Ia naik sepeda motor yang sudah dimodifikasi untuk datang ke acara workshop.

David mengaku menyukai fotografi, walau cuma memotret dengan telepon genggam. Dalam workshop ini dia mengambil jurusan kamera.

“Sekarang saya tahu artinya diafragma, penggunaan lensa dan filter. Saya akan pakai ilmu ini kalau nanti membuat videoklip lagu-lagu saya," kata David (32 tahun), yang selama ini menjadi pengamen di sebuah tempat kuliner di Bekasi. Selepas mengikuti workshop David bertekad akan menekuni fotografi, walau pun ia belum tahu bagaimana memiliki peralatannya.

Lain lagi, Vincentia, gadis tunarunggu yang tinggal di Meruya, Kebun Jeruk, Jakarta Barat. Ia mengikuti workshop untuk mendalami videografi dan make-up. "Saya ingin menambah ilmu, supaya kemampuan saya berkembang," kata Vina dengan artikulasi kurang sempurna.

Meskipun tidak mendengar, Vina dapat membaca gerak bibir lawan bicaranya. Sehingga komunikasi bisa lancar. Vina menempuh pendidikan di SLB-B Karya Mulia dan SLB-B Pangudi Luhur. Setelah itu, gadis kelahiran 26 September 1989 ini, meneruskan pendidikannya di jurusan Desain Komunikasi Visual Universitas Tarumanagara Jakarta.

Vina kini bekerja di sebuah perusahaan disain. Tugasnya mendisain album foto dan fotografi. Namun ia ingin terus memperdalam kemampuan fotografinya. Vina tertarik menggeluti fotografi film dan bekerja dalam sebuah tim.

Budi menegaskan kegiatan ini akan terus diadakan untuk memberi kesempatan bagi para disabilitas. "Walau tidak ada sponsor kami jalan terus selama teman-teman mentor bersedia memberikan ilmunya secara sukarela," kata Budi.

Sesuai UU No. 8 Tahun 2016 Tentang Disabilitas dan UU No.33 Tahun 2009 Tentang Perfilman, para penyandang disabilitas memiliki hak yang sama untuk berperan serta dalam industri perfilman, serta menyalurkan kreatifitas mereka di bidang seni dan budaya.

“Kita tidak mendidik mereka menjadi sineas. Sebab itu butuh waktu panjang. Kita hanya memberi kesempatan kepada mereka mengenal sedikit tentang dasar yang digunakan dalam pembuatan film,” kata Ketua Badan Pengembangan SDM Citra, Benrhard Uluan Sirait, yang bertindak sebagai mentor.

Editor: boedi azwar

Home
Video
Lokal
Ekstra

Ente tau gak?