TIDAK ADA KONEKSI

Babe ikut sedih koneksi internet kamu terputus atau tidak tersambung dengan internet

COBA LAGI

Selalu Sajikan Berita yang Kamu Inginkan
Kapan saja dimana saja !

Tersedia di

Setelah Ngamar Bareng Selingkuhan, Anita Dibunuh Jasadnya Sangat Menyedihkan

Almitania alias Anita Azka (34), perempuan berkulit putih ditemukan

BACA DI APLIKASI BABE
(303.948)
Top Developer

Hebohnya Indonesia Tatkala Es Batu Pertama Kali Tiba Tahun 1846

Tribunnews Lampung - 5 hari lalu
Hebohnya Indonesia Tatkala Es Batu Pertama Kali Tiba Tahun 1846

Thinkstock

Es batu.

TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, JAKARTA - Minuman segar dengan campuran es biasanya menjadi menu favorit untuk berbuka puasa pada bulan Ramadan.

Namun, tahukah Anda bagaimana sejarah es batu di Indonesia?

Ternyata, ada kisah menarik di balik kedatangan es batu di negeri kita.

Pada tahun 1800-an, minuman dingin masih merupakan sajian mewah.

Penikmatnya hanya segolongan kecil keluarga Belanda yang bertempat tinggal di kawasan Meester (sekarang Jatinegara, Jakarta Timur) atau Weltevreden (sekarang Sawah Besar, Jakarta Pusat).

Saat itu, es batu adalah pelengkap minum bir.

Merujuk surat kabar harian Kompas, 19 Juni 1972, terjadi kehebohan saat es batu pertama kali masuk ke negeri ini pada tahun 1846.

Pada 18 November 1846, surat kabar Kavasche Courant memberitakan bahwa sehari sebelumnya, 17 November 1846, sebuah kapal besar dari Boston, Amerika Serikat, menambatkan jangkarnya.

Kapal itu memuat es pesanan Roselie en Co. Jadwal bongkar muat es batu tersebut adalah keesokan harinya, 18 November 1846.

Kabar soal es ini menyebar hingga ke Benteng Batavia, setelah adanya pemberitaan soal itu.

Kabar tersebut lantas membuat sibuk pihak Bea Cukai, karena belum mempersiapkan aturan mengenai impor es batu.

Kala itu, semua orang memperbincangkan es batu.

Orang-orang menyebutnya sebagai "batu-batu putih sejernih kristal". "Jika memegangnya, tangan bisa kaku".

Beberapa hari kemudian, muncul iklan Roselie en Co yang menjual es tersebut. Harganya 10 sen per 500 gram.

Membungkus Es Batu dengan Selimut Wol

Kehebohan soal es batu tak berhenti sampai di situ.

Surat kabar Javasche Courant menayangkan artikel mengenai cara penyimpanan es batu.

Caranya dengan membungkus menggunakan selimut dari wol.

Es dianggap sebagai barang impor berharga dari Amerika, sehingga penyimpanannya harus diperhatikan agar tak cepat mencair.

Muncul pula anggapan bahwa kedatangan es saat itu sebagai peluang bagi para pelaku bisnis.

Sejumlah restoran pun mulai menyediakan sajian minuman mengandung es.

Sebuah perusahaan bernama Djakarta Firms Voute en Gherin juga memanfaatkan "histeria" masyarakat terhadap es batu.

Mereka menjual selimut wol yang bisa berfungsi menyimpan es.

Kisah lainnya, saat seorang pengusaha bernama David Gilet menyatakan sanggup menyediakan air es untuk berbagai pesta dengan biaya 15 gulden.

Dan, untuk pertama kalinya, air es tersaji saat malam Natal pada tahun 1846 di Hotel Des Indes (berubah nama menjadi Hotel Duta Indonesia, yang kini menjadi Duta Merlin, Jakarta Pusat).

Obat Sariawan

Dalam perkembangannya, es batu bisa menjadi obat sariawan.

Pemerintah Hindia Belanda ketika itu bahkan memberikan bonus sebesar 6.000 gulden bagi mereka yang sanggup mengirim es batu ke rumah sakit di Batavia.

Es tersebut untuk mengobati tentara Belanda yang terkena sariawan.

Sementara, di Semarang dan Surabaya, Pemerintah Hindia Belanda menyediakan bonus sebesar 7.300 gulden.

Impor es dari Amerika ini berlangsung hingga tahun 1870. Saat itu, sudah berdiri pabrik es di Batavia.

Pabrik tersebut berdiri setelah prosedur pembuatan amoniak ditemukan di Eropa. Teknologi itu diimpor pada tahun 1880.

Kehadiran teknologi ini turut mengubah cara penyimpanan bahan makanan cadangan, yang ketika itu belum menggunakan pendingin sejenis ini.

Pabrik es batu lantas bermunculan satu dekade kemudian. Pabrik es batu mulai berdiri di berbagai daerah.

Di Batavia, misalnya, pabrik es berdiri di Molenvliet (Jalan Gadjah Mada dan Jalan Hayam Wuruk) dan kawasan Petojo.

Kebiasaan minum dingin pun semakin menyebar luas.

Pada tahun 1895, seorang pengusaha Tionghoa yang lahir di Semarang, Kwa Wan Hong, mendirikan pabrik es batu di Semarang.

Selanjutnya, pabrik serupa berdiri di Tegal, Pekalongan, Surabaya, dan Batavia.

(Luthfia Ayu Azanella/Inggried Dwi Wedhaswary)

Home
Video
Lokal
Ekstra

Ente tau gak?